Hoax Menurut Islam
Masyarakat
Indonesia akhir-akhir ini selalu dihantui oleh berita bohong atau yang biasa
disebut Hoax. Apa itu Hoax? Menurut KBBI, Hoax mengandung makna
berita bohong, berita tidak bersumber.
Menurut Silverman (2015) Hoax merupakan sebagai
rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai
kebenaran. Menurut Werme (2016), mendefiniskan Fake news sebagai berita
palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki
agenda politik tertentu. Hoakx bukan sekedar misleading alias
menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki
landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.
Adanya informasi atau
berita hoax dapat menyebabkan masyarakat mengalami kebingungan, atau melakukan
sesuatu yang disebutkan dalam hoax tersebut tanpa mengetahui asal-usul atau
penyebab mengapa ia harus melakukan hal tersebut. Hoax
biasanya muncul dari media sosial. Baik itu Facebook,
Twitter, Instagram, bahkan di aplikasi media sosial untuk chat seperti Whatsapp, Line, atau Telegram.
Memang tidak semua masyarakat Indonesia mudah mempercayai berita atau informasi
yang disebarkan di medi sosial, namun rata-rata masyarakat termakan oleh berita
atau informasi bohong tersebut. Bahkan berita atau informasi bohong tersebut
disebarkan oleh masyarakat ke kelompok masyarakat lain, minimalnya anggota
keluarga yang berada di satu rumah.
Informasi
atau berita hoax dapat menyebabkan perpecahan di tengah masyarakat. Sampai saat
ini banyak kejadian adanya cekcok, pertengkaran, atau perkelahian yang
menyebabkan kematian hanya karena hoax. Sebuah keluarga yang awalnya harmonis
bisa jadi mengalami perselisihan antar anggota keluarga di dalamnya hanya
karena perbedaan pendapat yang berasal dari hoax. Sebuah kelompok pertemanan
yang biasanya solid dan kompak bisa terjadi pertengkaran atau percekcokan hanya
karena perbedaan pendapat mengenai informasi yang di dapat oleh hoax. Hoax bisa
jadi terlihat kecil dan tidak begitu penting, namun sesungguhnya memiliki efek
dan kekuatan yang besar dalam mempengaruhi masyarakat. Hoax dibuat oleh oknum
yang tidak bertanggung jawab, dan disebarkan kepada masyarakat agar terjadi
kegemparan atau ketidak-percayaan terhadap sesuatu.
Allah
berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu
tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya
yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6 ]
Dalam ayat diatas, disebutkan bahwa Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang disebarkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang disebarkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Melalui Q.S. Al-Hujurat (49): 6, Allah swt memberikan tuntunan kepada kita agar bersikap hati-hati, tidak gegabah dan tidak tergesa-gesa dalam menerima sebuah berita, khususnya jika berita tersebut datang dari seorang yang sudah dikenali kefasikannya. Ayat ini juga mengisyaratkan agar kita selalu melakukan klarifikasi atau tabayyun saat menerima berita dari orang yang tidak kita kenali. Ayat ini memberikan tuntunan kepada kita agar lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyampaikan sebuah berita, apalagi berita tersebut menyalahi beberapa ketentuan yang sudah berlaku/ telah disepakati seperti ketentuan akal sehat, adab sopan santun maupun agama. Tuntunan agama agar kita menjadi orang yang lebih cerdas dalam bersikap. Berusaha untuk menyampaikan berita yang benar, bukan bohong/ hoax. Implikasi dari kesalahan dalam menerima maupun menyampaikan berita adalah menimbulkan dampak negatif, yakni: merusak sebuah tatanan masyarakat. Hal ini digaris bawahi pada kata-kata “… Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Dalam ayat diatas, disebutkan bahwa Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang disebarkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang disebarkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah, pent.), musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu waspada, hingga kalian bisa mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.
Melalui Q.S. Al-Hujurat (49): 6, Allah swt memberikan tuntunan kepada kita agar bersikap hati-hati, tidak gegabah dan tidak tergesa-gesa dalam menerima sebuah berita, khususnya jika berita tersebut datang dari seorang yang sudah dikenali kefasikannya. Ayat ini juga mengisyaratkan agar kita selalu melakukan klarifikasi atau tabayyun saat menerima berita dari orang yang tidak kita kenali. Ayat ini memberikan tuntunan kepada kita agar lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyampaikan sebuah berita, apalagi berita tersebut menyalahi beberapa ketentuan yang sudah berlaku/ telah disepakati seperti ketentuan akal sehat, adab sopan santun maupun agama. Tuntunan agama agar kita menjadi orang yang lebih cerdas dalam bersikap. Berusaha untuk menyampaikan berita yang benar, bukan bohong/ hoax. Implikasi dari kesalahan dalam menerima maupun menyampaikan berita adalah menimbulkan dampak negatif, yakni: merusak sebuah tatanan masyarakat. Hal ini digaris bawahi pada kata-kata “… Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Hal ini
selaras dengan pesan-pesan yang terkandung dalam Q.S. Al-Ahzab (33) : 70-71. Yaitu, segala kebenaran baik dalam sikap
dan tutur kata- terliput di dalamnya kabar yang benar- akan lebih dekat kepada
ketakwaan. Takwa merupakan penyokong kebenaran dalam berucap dan bertutur kata.
Ucapan dan tutur kata yang benar akan menjadi salah satu sebab kebaikan
tindakan. Selanjutnya, tindakan yang baik akan menjadi faktor/ sebab
diampuninya sebuah kesalahan/ dosa-dosa kita.
Allah berfirman yang artinya, “Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]
Dari dua
ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa Allah sudah memerintahkan kita, sebagai
masyarakat, untuk selalu menyeleksi berita apapun. Mungkin akan sulit untuk menghapuskan hoax, namun tidak sulit untuk
memfilter berita apapun yang sampai kepada kita. Agar kita mengetahui mana
berita yang benar, dan mana yang tidak.
0 comments